Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Rabu, 14 Juli 2010

Interrelasi Muraqabah dan Dzikrullah

Malaikat Jibril pernah menjelma sebagai seorang Arab yang menemui Nabi saw. saat beliau berada di tengah-tengah sahabat. Kata Nabi—di akhir fragmen kedatangan Jibril, setelah dia menghilang—ia dating untuk mengajarkan unsure-unsur agama Islam kepada para sahabat. Di antara yg diajarkannya itu adalah ihsan. Ditanya apa itu ihsan, Nabi saw menjawab, "Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, (yakinlah) sesungguhnya Dia melihatmu."
Ihsan inilah yang disebut oleh para ulama sebagai hakikat muraqabatullah, muraqabah kepada Allah.

Dzikir berbuah Muraqabah
Para ulama menyatakan, apabila seseorang selalu bermuraqabah kepada Allah, maka ia akan menjadi sosok yang memiliki rasa takut kepada ancaman Allah (khauf), takut jika tidak mendapatkan karunia-Nya (khasyyah), mengagungkan-Nya, beriman secara mutlak kepada ilmu dan kekuasaan-Nya, mencintai-Nya dan mengharap-Nya.

Siapa saja yang menjaga rukun-rukun ini tidak mungkin akan melewatkan sesaat saja tanpa muraqabah kepada Allah dan ibadah kepada-Nya. Dan di antara perkara-perkara yang dapat memudahkan seorang muslim untuk itu adalah memperbanyak dzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan mengagungkan-Nya. Itulah sebabnya ada banyak ayat dan hadits yang memerintahkan berdzikir kepada Allah. Allah berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman! Banyak-banyaklah berdzikir kepada Allah!" (QS. al-Ahzab: 41)
"Dan dzikir kepada Allah, itulah yang lebih besar." (QS. al-'Ankabut: 45)
"Dan ingatlah Rabb-mu, jika kamu lupa." (QS. al-Kahf: 24)
"Ketahuilah, dengan dzikir kepada Allah hati menjadi tenang." (QS. ar-Ra'ad: 28)
Adalah Rasulullah saw menyifati adzan sebagai "da'wah tammah", seruan yang sempurna. Dan adalah lisan beliau tidak pernah lengang dari dzikir kepada Allah. Dan untuk itulah beliau bersabda, "Hendaklah lisanmu selalu basah dengan dzikir kepada Allah." (HR. at-Tirmidziy dan Ibnu Majah, dikategorikan shahih oleh Syekh al-Albaniy)

Membaca al-Qur`an adalah dzikir yang paling utama. Karena itu hendaknya setiap muslim memiliki wirid harian dari Kitabullah. Dan hendaklah dia berhati-hati dari menjadi orang yang menjauhi al-Qur`an. Yaitu orang yang disebut oleh Rasulullah saw. dan diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya,
"Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur`an sesuatu yang dijauhi" (QS. al-Furqan: 30)
Bentuk menjauhi al-Qur`an adalah dengan tidak mengimplementasikannya, juga dengan tidak membacanya.
Dan hendaklah setiap muslim mentadabburi al-Qur`an dan mentafakkurinya, supaya al-Qur`an menjiwai ilmu dan amalnya. Allah berfirman,
"Maka apakah mereka tidak mentadabburi al-Qur`an ataukah hati mereka telah terkunci?" (QS. Muhammad: 24)
Di antara yang mesti diperhatikan oleh sebagian juru dakwah dan penuntut ilmu di zaman ini, menyepelekan hal ini dan melalaikannya. Sampai-sampai ada di antara mereka yang tidak menyempurnakan dzikir seusai melaksanakan shalat Fardhu dan tidak membaca dzikir pagi dan petang, dengan alasan disibukkan oleh dakwah dan menuntut ilmu. Sungguh, ini adalah bisikan setan. Adalah para salaf berdisiplin di dalam berdzikir kepada Allah. Allah telah menyifati mereka dengan firman-Nya,
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring…" (QS. Ali 'Imran: 191)
Dan marilah kita memperhatikan ayat berikut ini:
"Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepada kalian." (QS. al-Baqarah: 152)
Apakah ada seseorang yang senantiasa berdzikir kepada Allah itu menjadi lemah atau terhina?!

Faidah Dzikrullah
Ibnul Qayyim menulis, "Sesungguhnya dzikir memberikan energi bagi orang yang melakukannya. Bisa saja saat berdzikir seseorang melakukan sesuatu. Sesuatu yang tidak mampu dilakukannya saat tidak berdzikir! Sungguh, saya telah menyaksikan kekuatan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam berjalan, berbicara, bersikap berani, dan menulis. Kekuatan yang menakjubkan. Dalam satu hari beliau mampu menulis sebanyak yang ditulis oleh seseorang selama satu pekan. Para tentara pun telah menyaksikan kekuatan beliau di medan peperangan. Kekuatan yang mendecakkan." (al-Wabilush Shayyib, hal. 155)

Masih tentang faidah dzikir, Ibnul Qayyim menulis, "Ia adalah nutrisi bagi hati dan ruh. Jika seorang hamba kehilangan dia, jadilah dia laksana tubuh yang dihalangi dari makanannya. Suatu saat saya mendapati Syaikhul Islam selepas shalat Shubuh. Beliau berdzikir kepada Allah sampai menjelang tengah hari. Kemudian beliau berpaling kepadaku seraya berkata, "Inilah sarapanku. Jika aku tidak mengkonsumsinya, energiku akan sirna." (al-Wabilush Shayyib, hal. 85)
Imam al-Bukhariy dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ariy ra bahwa Nabi saw bersabda, "Wahai 'Abdullah bin Qais!" "Saya penuhi panggilanmu, wahai Rasulullah!" jawabku. "Maukah kamu kuberitahu suatu kalimat yang termasuk perbendaharaan surga?" tanya beliau. "Tentu saja, wahai Rasulullah," jawabku. "Yaitu, Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah (Tiada daya yang dapat menghalangi kemaksiatan dan tiada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan melainkan dengan Allah)," sabda beliau. (HR. al-Bukhariy dan Muslim)
Menurut versi lain, beliau saw bersabda, "Wahai 'Abdullah bin Qais! Ucapkanlah, 'Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah (Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan Allah)'! Sesungguhnya kalimat itu adalah satu perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan surga." (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim menulis, "Kalimat ini memiliki pengaruh yang mengagumkan untuk menghadapi berbagai kesulitan, menanggung beban berat, menghadapi penguasa, dan bagi siapa saja yang takut menghadapi suasana yang mencekam." (al-Wabilush Shayyib, hal. 157)
Wallahu a’lam.
Selengkapnya - "Interrelasi Muraqabah dan Dzikrullah"

Selasa, 25 Mei 2010

NALAR & WAHYU

Akal yang mampu menalar dengan baik dan tepat adalah anugerah Allah yang tak ternilai harganya. Akal yang tajam dapat mengantarkan seseorang ke derajat yang sangat tinggi: menjadi seorang alim mujtahid yang memberikan pencerahan kepada orang-orang yang datang dan menanyakan berbagai persoalan kepadanya. Jika seorang alim mujtahid menalar perkara yang disodorkan kepadanya, keliru pun tak masalah baginya. Dia tetap mendapatkan satu pahala. Jika benar, dua pahala didapatnya. Ini jika seseorang memosisikan nalar akalnya sebagaimana mestinya: di bawah wahyu.

Apabila seseorang membalik posisi nalar akalnya, mendahulukannya di atas wahyu dan memilih mengikuti hawa nafsunya, sungguh itu adalah pangkal kesesatannya. Sufyan bin ‘Uyainah pernah ditanya, “Kenapa orang-orang yang menuruti hawa nafsunya itu amat mencintai hawa nafsunya?” Sufyan menjawab, “Apakah kamu lupa dengan firman Allah: ‘Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya.’ (Al-Baqarah: 93).”
Allah berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (Al-Qashash: 50)
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (An-Najm: 23)

Ketenteraman Palsu
Oleh karena itulah mereka cenderung untuk mendengar syair-syair dan suara-suara yang membangkitkan cinta yang umum, bukan cinta orang-orang yang beriman. Cinta yang sama-sama dimiliki oleh mereka yang mencintai ar-Rahman, mereka yang mencintai berhala, mereka yang mencintai salib, mereka yang mencintai negara, mereka yang mencintai saudara, mereka yang mencintai sesama jenis, dan mereka yang mencintai perempuan. Mereka semua adalah orang-orang yang mengikuti dzauq dan wajad tanpa memperhatikan al-Kitab, as-Sunnah, dan jalan para Salaf.
Orang yang menyelisihi tata cara ibadah kepada Allah serta tata cara taat kepada-Nya dan kepada utusan-Nya yang diajarkan oleh Rasulullah saw sejatinya tidaklah mengikuti agama yang disyariatkan oleh Allah. Allah berfirman,
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menghindarkanmu kamu sedikit pun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jatsiyah: 18-19)

Dalam pada itu mereka mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah. Allah berfirman,
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura: 21)

Berusaha lalu tawakal
Ada juga orang-orang yang berpegang kepada agama: melaksanakan ibadah fardhu dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Hanya saja mereka keliru: mereka tidak mau melakukan usaha untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya adalah ibadah. Mereka menyangka, orang yang imannya tinggi adalah orang yang total pasrah kepada Allah dan tidak peduli lagi dengan berbagai usaha. Mereka beranggapan tawakal dan doa adalah derajat orang-orang awam, bukan orang-orang khusus. Sebab, masih menurut mereka, orang yang imannya kuat mengerti bahwa apa yang ditakdirkan oleh Allah pasti terjadi. Karena itu tidak perlu ada usaha. Ini adalah kesalahan besar. Sesungguhnya Allah menakdirkan berbagai perkara berikut usaha/sebabnya sebagaimana Dia menakdirkan kebahagiaan dan kesengsaraan berikut usaha/sebabnya.

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan penghuni surga, Dia menciptakan surga untuk mereka ketika mereka masih berada di tulang sulbi nenek-moyang mereka. Mereka akan beramal dengan amalan penghuni surga.”
Ketika Rasulullah saw memberitahu para sahabat bahwa Allah telah menulis semua takdir mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Kenapa kita tidak meninggalkan amal dan pasrah kepada tulisan itu?” Beliau bersabda, “Tidak begitu. Beramallah! Semua orang dimudahkan untuk mengerjakan amalan (baik untuk menjadi penghuni surga maupun neraka).”
Orang-orang yang kelak menjadi penghuni surga dimudahkan untuk mengerjakan amalan penghuni surga. Orang-orang yang kelak menjadi penghuni neraka dimudahkan untuk mengerjakan amalan penghuni neraka.

Semua perintah Allah kepada hamba-Nya untuk berusaha adalah ibadah. Tawakal diperintahkan seiring dengan perintah untuk beribadah. Allah berfirman,
“Beribadahlah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya.” (Hud: 123)
“Dia-lah Rabb-ku tidak ada sesembahan (yang hak) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (Ar-Ra’ad: 30)
“(Syu’aib berkata), ‘Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan kembali.” (Hud: 88)
Seorang hamba akan selamat dari semua bencana ini jika ia senantiasa berkomitmen dengan ajaran Allah yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Az-Zuhriy berkata, “Orang-orang yang telah mendahului kita berpesan, ‘Berpegang teguh kepada Sunnah adalah keselamatan.’.”
Menurut Imam Malik, “Sunnah, ibadah, dan ketaatan itu seumpama bahtera Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya akan selamat, dan barang siapa yang tidak menaikinya akan tenggelam.”
Wallahu a’lam
Selengkapnya - "NALAR & WAHYU"

Kamis, 25 Maret 2010

Zuhud (Juga) Syarat Cinta

Adalah Muhammad bin Wasi’, salah seorang anggota pasukan Qutaibah bin Muslim, yang sangat terkenal dengan kezuhudannya. Di matanya emas tak lebih berharga daripada tanah yang diinjaknya. Qutaibah bin Muslim amat bangga kepada Muhammad. Dan Qutaibah ingin menunjukkan kezuhudan Muhammad kepada para menteri dan pejabat. Qutaibah yang di tangannya ada setumpuk emas seumpama kepala banteng berkata, “Menurut kalian, adakah orang yang menolak emas ini?”
“Tak akan ada orang yang zuhud terhadapnya,” jawab mereka serentak.
“Akan kutunjukkan kepada kalian, salah seorang umat Muhammad saw yang dalam pandangannya emas sama saja dengan tanah. Panggilkan Muhammad bin Wasi’,” kata Qutaibah.
Maka Muhammad dipanggil. Sesampai di hadapannya, Qutaibah menyerahkan tumpukan emas sebesar kepala banteng itu kepadanya. Muhammad menerimanya.

Qutaibah heran. Sempat ia berpikit, pasti Muhammad akan mengembalikannya. Ternyata sangkanya keliru. Qutaibah membawanya balik.
Qutaibah pun menyuruh beberapa orang untuk membuntuti Muhammad. Dia bergumam, “Ya Allah, janganlah Engkau kelirukan prasangka baikku padanya.”
Muhammad kembali ke kesatuannya. Dalam sebuah perjalanan, ada seorang pengemis yang menengadahkan tangannya kepada pasukan, Muhammad bin Wasi’ adalah salah seorang dari anggota pasukan itu. Muhammad menyerahkan semua emas yang diterimanya kepada pengemis itu. Semuanya, tanpa sisa.

Orang-orang yang diutus Qutaibah untuk membuntuti Muhammad pun melaporkan kejadian itu. Qutaibah berkata, “Bukankah sudah kukatakan, ada orang dari umat Muhammad saw yang di matanya emas itu laksana tanah?”
Inilah zuhud. Dunia datang dan pergi, sementara hati tetap bersama Allah. Rasulullah saw telah mengingatkan kita supaya tidak menghamba kepada dunia. Beliau bersabda,
“Celakalah penghamba dirham. Celakalah penghamba dinar. Celakalah penghamba kain beludru. Celakalah penghamba kain bersulam sutera. Celaka dan celaka. Jika tertusuk duri, duri itu tak dapat dicabut darinya.” (Hadits riwayat Imam al-Bukhariy)
Kenapa orang-orang itu celaka? Karena mereka menghamba kepada hawa nafsunya. Allah berfirman,
“Pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya (karena Allah telah mengetahui bahwa Dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya).” (Q.S. Al-Jatsiyah: 23)

Juga Syarat Cinta
Sahal bin Sa’ad ra bertutur, “Seseorang menemui Rasulullah saw seraya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan, jika aku mengerjakannya Allah mencintaiku dan orang-orang pun mencintaiku.’ Beliau menjawab, ‘Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu, Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh orang-orang niscaya mereka mencintaimu.’.” (Hadits riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim)

Hadits Sahal ini menegaskan bahwa cinta Allah dapat diraih dengan zuhud terhadap dunia. Sesungguhnya dunia adalah negeri persinggahan bukan negeri untuk menetap. Dunia adalah tempat yang penuh dengan duka cita bukan tempat tinggal untuk bersuka cita. Sudah sepantasnyalah seorang mukmin menjadikan dunia sebagai bagian perjalanan, mempersiapkan bekal dan hartanya untuk menuju ke perjalanan yang pasti. Perjalanan menuju negeri akhirat.
Allah berfirman, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

Hakikat Zuhud


Abu Sulaiman Ad Daaroniy—sebagaimana dikutip oleh Al Hafizh Ibnu Rojab al-Hambali dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (2/186)—mengatakan, “Para ‘alim ulama di Iraq berselisih pendapat mengenai pengertian zuhud. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah menjauhi dari manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan berbagai nafsu syahwat. Ada juga yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan diri dari kekenyangan. Semua definisi ini memiliki maksud yang sama.”

Kemudian Ad Daaroniy mengatakan bahwa beliau cenderung berpendapat bahwa zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikan dari mengingat Allah ‘azza wa jalla.
Banyak sekali perkataan Salaf dalam mendefinisikan zuhud terhadap dunia. Semua berkisar pada pupusnya hasrat kepada dunia dan kosongnnya hati dari ketergantungan terhadap dunia.
Imam Ahmad berkata, “Zuhud terhadap dunia adalah pendek angan-angan.”

Abdul Wahid bin Zaid bertutur, “Zuhud adalah zuhud terhadap dunia dan dirham.
Al-Junaid ditanya mengenai zuhud, maka beliau menjawab, “Zuhud adalah menganggap dunia itu kecil dan menghilangkan bekasnya dari hati.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Zuhud adalah meninggalkan semua yang tidak mendatangkan manfaat ukhrawi.”
Akhirnya, marilah kita renungkan pernyataan Ibnul Qayyim berikut ini: “Orang-orang bijaksana telah bersepakat bahwa zuhud adalah menyingkirnya hati dari negeri dunia, dan membawanya ke negeri akhirat. Maka di manakah gerangan para musafir yang hatinya tertambat kepada Allah?Di manakah gerangan para pejalan yang hendak menuju ke tempat yang mulia dan derajat yang tinggi?Di manakah gerangan para perindu surga dan penuntut akhirat?”
Selengkapnya - "Zuhud (Juga) Syarat Cinta"

Rabu, 03 Februari 2010

BERGANTUNG KEPADA ALLAH

"Manusia yang paling celaka adalah orang yang bergantung kepada selain Allah." (Ibnu Qayyim al-Jawziyah dalam Madarijus Salikin, 1/458)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhariy dan Imam Muslim dinyatakan bahwa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallama. menyebut tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari Kiamat. Pada hari itu tiada naungan selain naungan-Nya. Di antara mereka yang tujuh itu adalah:
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
"… orang yang hatinya tergantung di masjid-masjid."
Mensyarah hadits di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalaniy menulis: "Ini adalah isyarat bahwa hati orang itu selalu berada di masjid, meskipun tubuhnya berada di luar masjid."
Seperti apakah gambaran orang yang hatinya senantiasa tergantung di masjid? Seperti Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhariy. Apabila Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam membantu pekerjaan rumah tangga keluarga beliau lalu masuk waktu shalat, beliau segera menuju shalat. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau sedang bercengkrama dengan salah satu istri beliau. Begitu terdengar kumandang adzan, air muka beliau berubah dan seakan-akan beliau tidak mengenal istri beliau itu.
Atau seperti salah seorang salaf yang bekerja sebagai perajin perhiasan emas. Saat dia mengangkat palu kecilnya, lalu terdengar adzan, serta merta dia meletakkan palunya itu. Dia tidak mempedulikan apa pun yang ada di sekitarnya selain seruan adzan. Dia pun bergegas menyambut seruan itu.

Bukan hanya shalat
Dewasa ini, sebagian orang merasa sudah menjadi bagian dari orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tiada naungan selain Allah hanya dengan mengerjakan shalat lima waktu berjamaah di masjid. Mereka keliru. Orang yang hatinya tergantung di masjid bukan berarti dia hanya memikirkan shalat dan tidak mengindahkan perintah Allah yang lain. Disebutnya masjid di sini lantaran masjid adalah tempat seorang muslim menunaikan shalat, sementara shalat adalah amalan yang paling agung secara mutlak—sebagimana dinyatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jawziyah.
Bukanlah orang yang hatinya tergantung di masjid—meskipun dia mengerjakan shalat lima waktu di masjid—apabila dia tidak menjaga pandangan matanya dan pergaulannya. Sebab Allah telah berfirman,
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itulebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (an-Nuur: 30)
“Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”(al-Isra`: 32)
Bukanlah orang yang hatinya tergantung di masjid apabila dia tidak malu berbuat korupsi. Sebab Allah telah berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (an-Nisa`: 29)
“Orang laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (al-Maidah: 38)
Bukanlah orang yang hatinya tergantung di masjid apabila dia masih menikmati makanan, minuman, dan pakaian dari hasil riba. Sebab Allah telah berfirman,
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)
Bukanlah orang yang hatinya tergantung di masjid apabila dia masih mau minum arak dan berjudi. Sebab Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minum arak, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.” (Al-Maidah: 90)
Para ulama menyatakan, makna hati seseorang tergantung di masjid adalah bahwa orang ini senantiasa berhubungan dengan Allah. Tidak pernah terputus dari-Nya meski sesaat. Segala perintah dan larangan Allah senantiasa terngiang-ngiang di telinganya, senantiasa dihadirkan di hatinya. Tak terbersit di benaknya untuk bermaksiat kepada-Nya atau melanggar aturan-Nya.

Kita butuh taat
Seorang hamba yang hatinya bergantung kepada Allah, meskipun dia sibuk dengan dagangannya, keluarganya, atau berbagai urusan duniawi lainnya, dia senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah dan mendahulukan apa saja yang dicintai-Nya. Berbagai keindahan dan kelezatan dunia tidak melalaikannya dari upayanya mencari keridhaan Allah.
Yang demikian itu karena sebenarnya setiap orang butuh kepada berbagai ketaatan dan berbagai hal yang dicintai oleh Allah. Allah tidak butuh kepada segala bentuk ketaatan dan ibadah kita.
Sungguh, dalam ketaatan dan berbagai hal yang dicintai oleh Allah ada kemaslahatan bagi kita. Karena Allah Mahatahu bahwa kebaikan kita ada dalam ketaatan kepada-Nya, maka Dia memerintahkan kita untuk mentaati-Nya. Karena Allah Mahatahu bahwa kecelakaan kita—di dunia dan di akhirat—ada pada kemaksiatan dan berbagai larangan-Nya, maka Dia memerintahkan kita untuk menjauhi-Nya. Maka sungguh, kita butuh taat kepada Allah. Kita butuh bergantung kepada Allah. (imtihan syafii)
Selengkapnya - "BERGANTUNG KEPADA ALLAH"

Minggu, 31 Januari 2010

TILAWAH SYARAT CINTA

Dicintai, dikasihi, dan dilimpahi rahmat oleh Allah adalah tujuan mulia setiap insane beriman. Barang siapa yang dicintai oleh Allah dia akan dibela oleh Allah. Orang yang membencinya berarti mengumumkan perang terhadap Allah. Demikian dinyatakan sendiri oleh Allah dalam sebuah hadits qudsi.

“Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh dia telah mengumumkan perang terhadapku. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku-sukai daripada apa yang Ku-fardhukan atasnya. Hamba-Ku akan terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (Hadits riwayat Imam al-Bukhariy)

Dalam salah satu karyanya, Ihfazhillaaha Yahfadzka, Dr. ‘Aidh al-Qarniy menyebutkan beberapa amalan sunnah, apabila kita memenuhinya setelah kita melaksanakan semua kewajiban semampu kita dan meninggalkan semua yang diharamkan oleh Allah, niscaya kita akan dicintai oleh Allah. Perkara pertama dan yang paling urgen adalah membaca dan mentadabburi al-Qur`an.

Abdullah bin Mas’ud berpesan, “Janganlah seseorang meminta cinta Allah, tetapi hendaklah ia meminta cinta al-Qur`an! Sesungguhnya cinta kepada Allah itu seiring dengan cinta kepada al-Qur`an. Sekadar apa cinta seseorang kepada al-Qur`an, sekadar itu pula cintanya kepada Allah.”

Suatu umat tidak akan meraih kesuksesan dan kebahagiaan sejati tanpa membaca dan menadabburi al-Qur`an, kalam Allah yang merupakan sumber kehidupan hati. Saat mereka berpaling dari al-Qur`an, hati mereka akan mati, tak bercahaya, dan tidak menghadap Allah ‘azza wa jalla.

Apabila seorang muslim hendak membanggakan sesuatu, hendaklah dia membanggakan keislaman dan kepahamannya akan al-Qur`an. Orang yang bangga dengan nasab, keluarga, kekayaan, pekerjaan, dan kekuasaan tidaklah jauh beda dengan Fir’aun, Haman, Qarun, dan orang-orang yang semisal dengan mereka.

Keutamaan membaca al-Qur`an

Rasulullah saw telah mengajarkan kepada para sahabat bagaimana mestinya mereka hidup bersama al-Qur`an. Siapa pun—jika punya iman—yang membaca hadits-hadits Nabi mengenai hal itu, pastilah hatinya cenderung kepada al-Qur`an. Di antara hadits-hadits itu adalah:

“Bacalah al-Qur`an! Sesungguhnya pada hari Kiamat ia akan datang memberi syafaat kepada orang-orang yang membacanya.” (Hadits riwayat Imam Muslim)

“Orang terbaik dari kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.” (Hadits riwayat Imam al-Bukhariy)

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat satu kebaikan dan setiap kebaikan akan dilipatkan menjadi 10 kali. Aku tidak berkata Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)

Rasulullah sang teladan

Rasulullah saw tidak hanya banyak membaca al-Qur`an baik di dalam maupun di luar shalat. Beliau juga suka mendengarkan bacaan dari sahabatnya. Dalam satu hadits disebutkan, beliau pernah meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan al-Qur`an. Ibnu Mas’ud berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah saya membacakan untukmu, padahal al-Qur`an diturunkan kepadamu?”. Nabi menjawab, “Akuu ingin mendengarnya dari orang lain.” Maka Ibnu Mas’ud membacakan surat an-Nisa` sampai pada ayat yang ke-41 (Bagaimanakah jika Kami telah mendatangkan untuk setiap ummat saksinya dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas semua ummat itu?). Nabi bersabda, “Cukup.” Dan air mata nabi pun bercucuran. (HR. al-Bukhariy dan Muslim)

Suatu malam Rasulullah saw berjalan melewati suatu rumah, dari dalamnya terdengar suara seorang perempuan tengah membaca ayat pertama dari surat al-Ghasyiyah: “Telah datangkah kepadamu kabar al-Ghasyiyah (hari Kiamat)?” Hanya ayat pertama. Rasulullah saw mendekatkan kepala beliau ke dekat pintu untuk mendengar lebih jelas bacaan perempuan itu. Dia mengulang-ulang bacaannya. Dia tidak tahu bahwa Rasulullah saw ada di balik pintu mendengarkan bacaannya. Setelah beberapa saat berlalu Rasulullah saw mulai menangis seraya bersabda, “Ya, telah datang kepadaku. Telah datang kepadaku.”

Sahabat belajar dari Rasulullah

Sebagaimana pelajaran yang mereka dapatkan dari mahaguru mereka, para sahabat pun tidak hanya membaca al-Qur`an banyak-banyak. Mereka pun mentadabburinya dengan sepenuh hati. Dalam al-Bidayah wan-Nihayah Ibnu Katsir menyebut, ‘Umar bin Khathab ra jatuh sakit gara-gara membaca beberapa ayat dari surat ash-Shaffat.

“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah! Lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Tahanlah mereka (di tempat perhentian), sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Mengapa kamu tidak tolong-menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu menyerah (kepada keputusan Allah).” (Ash-Shaffat: 22-26)

Rasulullah saw dan Umar—juga para sahabat yang lain—merasa diajak bicara oleh Allah lewat ayat-ayat-Nya sehingga apa yang mereka baca teramat mempengaruhi eksistensi mereka. Bagaimana dengan kita? Apakah kita paham dan berusaha memahami ayat-ayat yang kita baca? Sebenarnya seberapa hidupkah hati kita. Jangan-jangan kita merasa hati kita hidup, padahal hati kita tak ubahnya hati ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, si munafik musuh Rasulullah saw dan para sahabat. Jangan-jangan kita merasa dicintai oleh Allah, namun sejatinya kita termasuk yang dilaknat-Nya. Allahul Musta’an.

Selengkapnya - "TILAWAH SYARAT CINTA"

Rabu, 29 Juli 2009

INDIKASI SEHAT-SAKITNYA HATI

Apabila hati yang sehat dihadapkan kepada kebatilan dan perkara-perkara yang buruk, niscaya akan lari, membencinya, dan tidak menoleh kepadanya. Berbeda dengan hati yang sakit. Dia tidak membedakan antara yang baik dan yang buruk, seperti dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud, “Binasalah seseorang yang hatinya tidak dapat mengenali mana yang makruf dan mana yang mungkar.” Demikian pula halnya dengan hati yang sakit karena syahwat. Disebabkan kelemahannya dia cenderung kepada kemaksiatan. Seberapa parah penyakitnya, sekuat itu pula kecendungannya kepada kemaksiatan. 
Terkadang penyakit yang diderita hati bertambah parah namun si pemilik hati tidak menyadarinya. Sebabnya, si pemilik hati tidak peduli dan tidak mau tahu tentang bagaimana menjaga kesehatan hati dan bagaimana menyembuhkannya apabila sakit. Bahkan ada pemilik hati yang tidak tahu dan tidak sadar bahwa hatinya telah mati. Apabila luka-luka kemaksiatan sudah tidak dirasakan, apabila ketidaktahuannya terhadap kebenaran dan kesesatan akidahnya sudah tidak membuatnya menderita, maka itulah pertanda kematian hati. Hati yang masih memiliki nyawa, pastilah merasa tidak nyaman dengan hadirnya keburukan dan ketidaktahuannya terhadap kebenaran. Raga tanpa nyawa tak akan merasakan sakit meski ditusuk dengan pisau belati.
Ada pula yang menyadari kalau hatinya sakit. Tetapi karena dia tidak tahan dan tidak bersabar untuk menanggung pahitnya obat, dia lebih memilih memiliki hati yang sakit. Obat penyakit hati adalah menyelisihi hawa nafsu. Hal itu memang amat berat, tetapi itulah yang paling bermanfaat bagi dirinya.
Ada pula sejenak bertahan dan bersabar, namun tak seberapa lama tekadnya memudar. Penyebabnya adalah minimnya ilmu, bashirah, dan kesabarannya. Seperti seseorang yang harus melewati jalan yang mengkhawatirkan untuk sampai ke tempat yang aman. Dia tahu, jika dia bersabar untuk berjalan melaluinya, ketakutannya akan sirna dan buahnya adalah keamanan yang langgeng. Dia membutuhkan kesabaran ekstra dan keyakinan yang penuh untuk bisa melaluinya. Jika kesabaran dan keyakinannya berkurang lalu dia kembali pulang, dia tidak akan pernah sampai.
Pertanda hati yang sakit hati adalah jika dia berpaling dari nutrisi yang bermanfaat dan obat yang menyembuhkannya serta lebih memilih bahan beracun dan obat yang dapat membinasakannya. Ada empat hal: nutrisi yang bermanfaat, obat yang mengantarkan kepada kesembuhan, bahan beracun, dan obat yang membinasakan.
Selengkapnya - "INDIKASI SEHAT-SAKITNYA HATI"

BERMAKSIAT DENGAN NIAT IBADAH

Kita sering mendengar bahwa semua aktivitas kita, selain amalan yang termasuk ibadah mahdhah, bisa bernilai ibadah jika disertai dengan niat. Makan, minum, tidur, jalan-jalan, mengobrol, dan semua perkara mubah lainnya bisa mendatangkan pahala bagi kita. Lantas bagaimana jika seseorang berbuat maksiat dengan niat beribadah kepada Allah? Dalam hal ini orang-orang yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saw. terkelompokkan menjadi tiga.

Salah tafsir
Pertama, mereka yang menganggap perbuatan maksiat dan dosa dapat bernilai ibadah jika diniatkan untuk ibadah. Misalnya, orang yang senang melihat wajah gadis yang cantik dan menganggapnya sebagai perbuatan yang diperintahkan oleh syariat atau mengira hal itu sebagai ibadah yang dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Mereka melandasi pendapatnya dengan sebuah ayat, "Apakah mereka tidak memerhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah?" (Q.S. al-A'raf: 185)
Menurut mereka, ayat ini bersifat umum, mencakup semua jenis ciptaan Allah, termasuk wajah gadis yang cantik. Bukankah wajah yang cantik termasuk ciptaan Allah yang paling baik dan paling indah?
Mereka telah memahami ayat ini secara keliru, tidak sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Maksud dari "memerhatikan" pada ayat di atas adalah memerhatikan dengan tujuan supaya kita mengenal Allah, beriman kepada-Nya, dan membuktikan kebenaran para rasul tentang semua perkara yang mereka sampaikan. Sementara memandang wajah gadis yang cantik atau pemuda yang rupawan yang menimbulkan hasrat membangkitkan syahwat tegas dilarang oleh Allah. Allah berfirman,
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya." (Q.S. an-Nur: 30)
Nabi saw. bersabda, "Zina mata adalah memandang." (H.R. al-Bukhari)
Sebagian mereka bahkan bertindak berlebihan. Mereka mengemas perbuatan haram dengan kemasan ibadah dan kebaikan. Mereka mengklaim, cinta mereka kepada gadis-gadis yang cantik dan para pemuda yang tampan semata-mata karena Allah. Di antara mereka ada membantu mempertamukan orang yang sedang merindukan seseorang dengan orang yang dirindukannya padahal keduanya belum terikat dengan tali pernikahan. Membantunya bertemu dengan orang yang dirindukannya akan membuatnya terbebas dari kesengsaraan menanggung rindu. Kata mereka, "Bukankah Rasulullah saw. bersabda, 'Barangsiapa meringankan seorang mukmin dari suatu kesedihan dunia, maka Allah akan meringankan orang itu dari satu beban kesedihan pada hari kiamat.'?" Astaghfirullah.

Karena bodoh
Kedua, mereka yang menganggap perbuatan haram tidak dapat menjadi ibadah dengan sendirinya. Namun, mereka beranggapan bahwa perbuatan itu dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka menduga perbuatan itu dapat menyelamatkan mereka dari perbuatan terlarang. Misalnya, mereka mencari nafkah dengan cara-cara haram seperti riba, merampok, menyuap; atau berjualan barang haram seperti babi atau minuman keras. Mereka berdalih, semua itu mereka kerjakan demi kemajuan, demi menghidupi keluarga, dan demi perjuangan di jalan Allah.
Mengenai hal ini al-Ghazali berkata, "Niat tidak akan bisa mengubah status kemaksiatan. Orang tidak bisa begitu saja berdalil dengan keumuman hadits Rasulullah saw yang berbunyi, 'Setiap perbuatan itu tergantung niatnya,' kemudian mengatakan bahwa perbuatan maksiat bisa berubah menjadi ketaatan.
Al-Ghazali menyebut orang seperti itu layaknya orang yang mengumpat seseorang demi menjaga orang lain, memberi makan orang miskin dengan harta orang lain, membangun sekolah, masjid, atau panti asuhan dengan barang haram, lalu diniatkan untuk kebaikan.
"Semua itu merupakan wujud kebodohan," kata al-Ghazali lebih jauh. "Niat tidak akan bisa melepaskan seseorang dari kezaliman, permusuhan, dan kemaksiatan. Sungguh, meniatkan kebaikan pada tindakan kejahatan adalah kejahatan yang lain. Jika seseorang sudah mengetahui hal itu tetapi masih juga melakukannya, berarti ia telah menentang syariat."

Keumuman syariat
Ketiga, orang-orang yang meyakini bahwa ada beberapa perbuatan haram yang bisa dijadikan ibadah bagi kelompok atau orang tertentu.
Al-'Izz bin 'Abdussalam menyatakan, ada sekelompok orang yang menganggap seorang wali boleh melakukan maksiat kecil dan Allah menghalalkan baginya apa-apa yang tidak dihalalkan bagi yang lain. Beliau menegaskan, "Yang lebih jahat lagi adalah orang yang yakin bahwa perbuatan dosa semacam itu adalah ibadah, karena dilakukan oleh seorang wali Allah."
Ibnul Jawzi mengutip perkataan seorang sufi, "Nyanyian itu haram bagi kalangan awam. Sebab mereka akan terus berkutat dalam hawa nafsu. Sedangkan bagi ahli zuhud, nyanyian itu mubah. Sebab ia dapat meningkatkan kesungguhan mereka. Adapun bagi kelompok kami, hukumnya sunnah karena dengan nyanyian itu hati kami menjadi hidup."
Tentu saja pendapat ini salah. Hukum haram yang ditetapkan oleh Allah bersifat umum. Meliputi semua kalangan. Mencakup semua tingkatan manusia tanpa pandang bulu. Tidak ada kelompok atau orang yang dikhususkan dari ketetapan ini, selain orang yang dikecualikan oleh Allah karena keadaan terpaksa, seperti orang yang terpaksa makan bangkai.
Harits al-Muhasibiy menyatakan bahwa ikhlas tidak berlaku untuk perbuatan haram, seperti memandang sesuatu yang haram, misalnya, lalu berdalil bahwa ia tengah merenungkan ciptaan Allah. Dalam konteks ini, ikhlas tidak berlaku dan tidak bernilai ibadah sama sekali.
Selengkapnya - "BERMAKSIAT DENGAN NIAT IBADAH"